Rabu, 28 Januari 2009

TEORI-TEORI BIMBINGAN KONSELING

Pengantar

Apabila seseorang (baca – siswa) mempunyai suatu masalah/problem, maka kebutuhan utama bagainya adalah dapat menyelesaiakan problem tersebut dengan baik. Bagi seseorang yang tidak dapat menyelesaikan problemnya kemungkinan akan timbul kecemasan, frustasi atau menjadi kebingungan.
Biasanya orang yang mempunyai problem dan tidak dapat menyelesaikannya sendiri akan sadar bahwa dirinya butuh orang lain yang dapat menolongnya. Tetapi kadang kala ada perasaan malu untuk mengutarakan problemnya kepada orang lain, atau mungkin orang tersebut tidak tahu kepada siapa harus minta tolong. Dalam keadaan demikian maka orang itu perlu memperoleh keterangan atau informasi mengenai orang atau lembaga yang dapat “membantu” memecahkan problemnya. Informasi yang diperoleh dari mulut kemulut, iklan-ilklan di Televisi, Koran atau majalah atau dari selebaran-selebaran sering kali menyesatkan, tidak ilmiyah, tidak professional bahkan iklan tersebut memang sengaja di peruntukkan bagi orang-orang yang kebingungan dan suggestible agar mudah tertarik dan terdorong menggunakan jasa mereka.
Memang kalau dilihat dari perkembangan sejarah Psikologi maupun Bimbingan Konseling dapat dibedakan menjadi dua teori, yaitu teori-teori pra-ilmiah dan teori-teori ilmiyah yang sekarang ini berkembang.

Teori-teori Pra-Ilmiah

1. Astrologi atau Ilmu Perbintangan
Yaitu pengetahuan untuk meramal tentang nasib seseorang berdasarkan perhitungan bintang-bintang pada waktu seseorang dilahirkan. Para astrolog mempunyai dasar pemikirah bahwa kosmos berpengaruh terhadap manusia. Para astrolog menyatakan dapat menceritakan mengenai masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang dengan cara melihat tanggal dan bulan kelahiran kepada siapa saja yang menginginkan. Astrologi atau horoskop banyak digemari dinegara-negara berkembang dan terbelakang, termasuk Indonesia dapat dibuktikan dengan banyaknya iklan di TV, SMS nasib dan peruntungan, ramalan bintang di surat kabar maupun majalah.

2. Chirologi atau Ilmu Gurat-gurat Tangan (bhs.Jawa - - Rajah)
Dasar pikiran dari pengetahuan ini adalah adanya suatu kenyataan bahwa gurat-gurat tangan setiap orang itu tidak ada yang sama satu sama lain. Pengetahuan inilah yang menjadi dasar Daktilaskopi (ilmu sidik jari). Sebab apabila seseorang dapat mengenal perbedaan-perbedaan serta sifat-sifat khusus gurat-gurat tangan tersebut, maka dia akan mengenal perbedaan-perbedaan serta sifat-sifat khas orangnya.

3. Graphologi atau Ilmu tentang Tulisan Tangan
Ilmu yang mempelajari tentang tulisan. Ini diartikan bahwa tulisan tangan sebagai ekspresi jiwa, karena itu dari tulisan tangan ini akan dapat diungkapkan keadaan pribadinya. Banyak teori yang yang diuraikan tentang grapologi ini dan dapat masuk akal. Hanya saja masih diragukan validitasnya.
Banyak para psikolog yang menyelidiki melalui eksperimen dan teknik klinis mengenai seluruh kemungkinan dan teorinya. Gertrude Aull berpendapat bahwa grapologi yang dipraktekkan para psikolog Eropa Tengah lebih banyak didasarkan pada hasil kerja Ludwig Klages yang dikenal sebagai pendiri system kemurnian kepribadian. Pandangan utamanya adalah keunikan dari kepribadian individu diketahui sebagai kesatuan proses psiko-fisik. Jadi seluruh tingkah lakunya berhubungan dengan seluruh kepribadiannya.
Tulisan tangan dapat dilihat sebagai gerakn-gerakan yang ekspresif, dapat memberikan gambaran mengenai tipe tingkah lakunya. Corak tulisan tiap orang berbeda. Kemauan mengubah tulisan hanya menghasilkan perubahan yang sedikit sekali, tidak signifikan.
Diagnosa kepribadian modern telah sering menggunakan usaha-usaha ekspresif dari subyek (contohnya; bentuk dari menggambar bebas, melukiskan acting, memberikan perhatian pada bentuk dan pemahaman ruang yang terlihat). Penggunaan tulisan sebagai diagnosa mempunyai keuntungan dibandingkan teknik-teknik lain, karena mudah di dapat tanpa membuat situasi test laboratories. Interpretasi untuk diagnosa tulisan tidak boleh dicampur adukkan dengan kebagusan tulisan, tetapi dengan bentuk seperti apa adanya.
Dari bentuk tulisan dapat dipertimbangkan dalam tiga aspek yaitu:
Sebagai hasil gerakan tangan dan lengan, mempunyai corak tersendiri dan unik
Sebagai tugas yang dilaksanakan
Sebagai kreasi dari pola individu, yang berkembang tanpa rencana meskipun dibawah pengawasan.
Observasi dan pemikiran dari bentuk tulisan seperti dikemukakan diatas menimbulkan pertanyaan lebih lanjut, yaitu :
Otot-otot apa saja yang ikut bergerak pada waktu menulis ? Tingkah laku atau pengalaman apakah yang dapat mengungkapkan ingatan seseorang ? Keinginan-keinginan atau impuls-impils apa yang mempercapat hal itu ? Apa yang dicoba dikerjakan penulis ? Apakah mungkin menulis itu dapat diartikan sebagai gambaran tingkah laku ?
Seorang penulis berusaha keras mencapai maksudnya dan menyatu dengan lingkungannya. Bagaimana ia mencapai hal tersebut ? Cepat atau lambat, canggung atau luwes ? Teratur atau tidakkah ? Tentu saja bayangan mengenai tujuannya dan persepsi mengenai jalannya membantu untuk menentukan langkahnya.
Apakah struktur, kuwalitas, gaya dari pola tulisan itu ? Apakah akibat dari kehendak pengamat ? Bagaimana penulis menggunakan ruangan yang tersedia ? dan Bagaimana keberhasilannya yang berasal dari adat kebiasaan pola sekolah.

Dalam menganalisa tulisan tangan grafolog memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Apakah tulisan lurus, ataukah naik – turun
Condong atau tegaknya tulisan
Jarak tulisan dari garis yang satu ke garis yang lainnya.
Tumpul runcingnya tulisan
Tebal tipisnya tulisan.
Tetap dan tidaknya ukuran tulisan
Jarak tulisan dari tepi dan sebagainya.
Hal tersebut dianalisa, dicari sifat-sifatnya yang khas dan dicoba untuk menyimpulkan kepribadian penulisnya.

4. Palmistri
Menurut seorang ahli palmistry, lekukan-lekukan, garis-garis, lipatan-lipatan pada tanga berhubungan baik dengan bimbingan pekerjaan atau sebagai dasar untuk memberikan nasehat yang lain.
Sebuah ilustrasi yang dikutip dari pandangan ahli palmistry:
Hakim yang baik adalah seseorang yang bertangan sangat panjang, karena dengan tangan yang panjang itu hakim itu mempunyai sifat yang sabar.
Keistimewaan seorang dokter adalah memiliki telapak tangan yang lentur, lemas, lembut meskipun teguh, lebar dengan jari yang panjang-panjang, ibu jarinya bundar, garis kepala miring dan jari tangannya kuat.
Tentunya memilih pekerjaan dengan melihat bentuk tangan ini sangat tidak tepat

5. Phisiognomi atau Ilmu tentang Wajah
Pengetahuan ini berusaha memahami kepribadian atas dasar keadaan wajahnya. Dasar filosofinya adalah suatu keyakinan bahwa ada hubungan antara keadaan wajah dengan kepribadian. Hal-hal yang tampak pada wajah dapat dipergunakan untuk membuat interpretasi mengenai apa yang terkandung dalam jiwa. Tokoh yang ahli, populer dan penyebar teori ini adalah Johan Casper Lavater (1741-1801) pendeta dari Zurich. Dia menulis buku “Physiognomische Fragmente Zur Beforderung der Menchenkenntniss Und Menschenliebe”. Dalam buku tersebut antara lain dijelaskan :
Keadaan dahi dan kening adalah petunjuk untuk mengerti kecerdasan seseorang.
Hidung dan pipi adalah bagian yang dapat memberikan tanda mengenai halus dan kasarnya perasaan seseorang.
Mulut dan dagu dapat memberikan petunjuk tentang nafsu makan, nafsu minum dan sebagainya.
Mata adalah bagian yang mencerminkan seluruh kehidupan jiwa dan sebagainya.



6. Phrenologi atau ilmu tentang Tengkorak (kepala)
Pengetahuan ini bermaksud untuk memahami kepribadian dengan didasarkan pada tengkorak (batok kepala) seseorang. Teori ini adalah kelanjutan dari J.C. Lavater yang disempurnakan oleh Franz Joseph Gall (1758-1828), dokter Jerman berkolaborasi dengan G. Spuzzheim (1776-1932) mengarang buku mengenai anatomi dan fisiologi otak, yang merupakan karya penting pada zamannya. Dasar ajarannya adalah bahwa setiap fungsi atau kecakapan itu berpusat pada otak. Jika kecakapannya itu luar biasa maka pusatnya di otak pun luar biasa besarnya. Akibatnya, maka bentuk tengkorak akan berubah seiring dengan membesarnya otak sebagai pusat kecakapan tersebut, sehingga bentuk tengkorak akan terdapat tonjolan-tonjolan. Dengan mengukur secara teliti tonjolan-tonjolan tersebut, ditarik suatu kesimpulan tentang kecakapan-kecakapan atau sifat-sifat orangnya.

7. Onychologi atau ilmu tentang Kuku
Onycholog berusaha memahami kepribadian seseorang berdasarkan keadaan kuku-kukunya. Kuku diujung jari mempunyai hubungan yang erat dengan susunan syaraf, dengan cabang-cangnya (serabut saraf) yang terhalus berujung di pucuk-pucuk jari. Warna serta bentuk kuku dapat dipakai sebagai dasar mengenal kepribadian orangnya. Cabang pengetahuan ini berkembang di Prancis, dipelopori oleh Henry Bouquet, Carten Pierre Girom dan Henry Mangin

8. dll.

Teori-teori Ilmiah
1. Teori-teori konseling
Pengertian Konseling
Untuk mendapatkan pengertian yang memadai tentang konseling, berikut ini dikemukakan beberapa pendapat, antara lain :
1. Arthur J.Jones, Buford Steffire dan Norman R. Stewart (dalam buku Principles of Guidance):
Counseling denotes a professional relationship between a trained counseling and client. This relationship is usually person to person although it may sometimes involve more than two people, and is designed to help the client understand and clarify his view of his life space so that he may make meaningful and informed chase are available to him.

Herbert M. Burks, Jr dan Buford Steffire (Theoris of Counseling) :
Counseling is a learning-oriented process, carried on in a simple one-to-one social environment, in which a counselor, professionally competent in relevant psychological skills and knowledge, seeks to assist the client by methode appropriate to the letter’s needs and within the context of total personnel program, to learn more about him self, to learn how to put such understanding into effect in relatin to more clearly perceived, realistically defined goals to the and that the client may become a happier and more productive member of his society.

D. Mortenson dan Schmuller (Gudance in Today”s)
Counseling may, there for, be defined as a person to person process in which one person is helped by another to increase in understanding and ability to meet his problems.

Tolbert, E. (Introduction to Counseling):
Counseling is personal, face-to-face relationship between two people, in which the counselor, by means of the relationship and his special competencies, provides a learning situation in which the counselee, a normal sort of person, is helped to know him self and his present and possible future situations, so that he can make use of characteristics and potentialialities in a way that is both statisfying to himself and beneficial to society, and futher, can learn how to solve future problem and meet future needs

H.B. Pepinsky & P. Pepinsky (Counseling: Theory and Practice)
Counseling is a process involving an interaction between a counselor and client in a private setting, with the purpose helping the client change his behavior so that he may obtain a satisfactory resolution of his needs.


W.S. Winkel
Wawancara konseling merupakanpertemuan antara dua pribadi yang hasilnya tidak ditentukan sebelumnya, yaitu pertemuan berhadapan muka antara konselor dengan konselee/client yang bebas dari peneliaan. Dalam pertemuan ini konselee dapat memusatkan seluruh perhatiaannya pada persoalan yang sedang dihadapinya. Berkat bantuan dari konselor client semakin lama semakin luas pengertiannya tentang masalahnya dan makin sadar pula akan kemampuannya sendiri untuk menyelesaikan persoalannya.

Teknik-Teknik Konseling

Secara umum dalam konseling dikenal tiga teknik atau pendekatan yaitu :
Directive Counseling (Counselor centered counseling)
Non-directive counseling (Client centered counseling)
Eclectic counseling

Directive Counseling

Teknik ini pertama kali dicetuskan oleh Edmond G. Williamson seorang pejabat Dean of Student pada Umiversitas Minnesotta. Proses konseling pada teknik ini kebanyakan berada ditangan konselor. Konselor lebih banyak mengambil inisiatif dalam proses konseling, sehinga klien tinggal menerima apa yang dikemukakan oleh konselor.

Ciri-ciri Directive Conseling
Konselor sebagian besar memikul tanggung jawab mengenai berbagai keputusan yang diambil dan pemilihan pemecahan masalah klien
Konselor mengumpulkan berbagai data, fakta atau informasi mengenai masalah klien
Konselor mempelajari data, fakta atau informasi dan menafsirkan data, fakta atau informasi itu.
Konselor bersama klien mempelajari berbagai macam data, fakta atau informasi dan menganalisa sebab-sebab masalah yang dihadapi dan kemudian bersama-sama merumuskan suatu keputusan.
Klien menerima pendekatan ini secara langsung dari konselor.
Klien menentukan rencana pemecahan masalah yang akan datang dan mulai menyempurnakan keputusannya.
Konselor merekam dan kemudian melaporkan hasil proses konseling pada klien agar klien dengan jelas mengetahui dan cara pemecahan masalahnya.

Langkah-langkah Konseling Directive Conseling
1. Analisis
Adalah langkah memahami kehidupan individu siswa, yaitu dengan cara mengumpulkan data dari berbagai sumber.
Dengan arti lain analisis merupakan kegiatan pengumpulan data tentang siswa yang berkenaan dengan bakat, minat, motif, kesehatan fisik, kehidupan emosional dan karakteristik yang dapat menghambat atau mendukung penyesuaian diri siswa

Alat-alat untuk keperluan analisis ini antara lain berupa:
(1) Tes Prestasi Belajar
(2) Kartu Pribadi Siswa
(3) Pedoman wawancara
(4) Riwayat hidup
(5) Catatan anekdot
(6) Tes Psikologis/Inventori
(7) Daftar Cek Masalah
(8) Angket
(9) Sosiometri

2. Sintesis
Sintesis adalah langlah menghubungkan dan merangkum data. Ini berarti bahwa dalam langkah sintesis penyuluh mengorganisasikan dan merangkum data sehingga tampak dengan jelas gejala-gejala atau keluhan-keluhan siswa. Rangkuman data ini haruslah dibuat berdasarkan data yang diperoleh dalam langkah analisis.

3. Diagnosis
Diagnosis adalah langkah menemukan masalahnya atau mengidentifikasi masalah.
Langkah ini mencakup proses interpretasi data dalam kaitannya dengan gejala-gejala masalah, kekuatan dan kelemahan siswa. Dalam proses penafsiran data dalam hubungannya dengan perkiraan penyebab masalah, penyuluh haruslah menentukan penyebab masalah yang paling mendekati kebenaran atau menghubungkan sebab akibat yang paling logis dan rasional. Ini masalah yang diidentifikasi oleh penyulu dalam langkah diagnosis mungkin saja lebih dari satu.

4. Prognosis
Langkah prognosis yaitu langka meramalkan akibat yang mungkin timbul dari masalah itu dan menunjukkan perbuatan-perbuatan yang dapat dipilih. Atau dengan kata lain prognosis adalah suatu langkah mengenai alternatif bantuan yang dapat atau mungkin diberikan kepada siswa sesuai dengan masalah yang dihadapi sebagaimana yang ditemukan dalam langkah diagnosis.

5. Treatment/ Konseling
Langkah ini adalah merupakan pemeliharaan yang berupa inti dari pelaksanaan penyuluhan yang meliputi berbagai bentuk usaha, diantaranya menciptakan hubungan baik (rapport) antara penyuluh dengan siswa (klien), menafsirkan data, memberikan berbagai informasi, serta merencanakan berbagai bentuk kegiatan bersama siswa (klien)

Bentuk-bentuk bantuan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah melalui penyuluhan ini antara lain:
(1) Memperkuat diri dalam lingkungan (memperkuat konformitas)
(2) Mengubah lingkungan
(3) Memilih lingkungan yang memadai
(4) Mempelajari keterampilan yang diperlukan
(5) Mengubah sikap

Pemberian bantuan melalui penyuluhan ini bisa dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik seperti:
(1) Menciptakan hubungan baik
(2) Membantu siswa meningkatkan pemahaman diri
(3) Memberikan nasehat atau merencanakan program kegiatan
(4) Membantu siswa dalam melaksanakan keputusan atau rencana kegiatan yang dipilih.
(5) Merujuk ke pihak lain.

6. Tindak lanjut (follow up)
Langkah tindak lanjut adalah merupakan suatu langkah penentuan efektif tidaknya suatu usaha penyuluhan yang telah dilaksanakan. Langkah ini merupakan langkah membantu siswa (klien) melakukan program kegiatan yang dikehendaki atau membatu siswa kebali memecahkan maasalah-masalah baru yang berkaitan dengan masalahnya semula.

Kelemahan-kelemahan Directive Conseling
1. Permaslahan yang dihadapi klien beraneka ragam dalam emosi sehingga kadang-kadang konselor mengabaikan segi-segi yang penting dalam proses konseling.
2. Dianggap oleh klien sebagai perampasan tanggung jawabnya
3. Belum terdapat data-data, fakta-fakta atau informasi yang obyektif dari klien.
4. Dengan inisiatif (keaktifan lebih banyak) datang langsung dari konselor bisa menyebabkan adanya distansi antara konselor dengan klien.





Kebaikan-kebaikan Directive Conseling
Dalam keadaan tertentu kalau klien putus asa, rendah diri, takut atau cemas dan sebagainya, peranan konselor sangat menonjol, terutama untuk memulai wawancara konseling.
klien yang tidak memiliki kemampuan verbal untuk memulai wawancara konseling, konselor dapat memberikan bantuan untuk menggiring klien kepada pokok-pokok permasalahan yang ingin diungkapkannya.
Masalah-masalah klien yang sudah jelas memiliki data, fakta atau informasi, lebih lanjut bisa diambil langkah-langkah tertentu oleh konselor dalam memecahkan masalah klien.
Analisis
Sntesis
Diagnosiss
Prognosis
Bantuan
(penyuluhan)
Berbagai
Data siswa
terkumpul
Data siswa
Tersusun & terorganisisir
Gambaran inti masalah & penyebabnya
Perangkat kemungki
nan bantuan

Keputusan,
Rencana

Masalah Baru
Membenatu melaksanakan Rencana (tindak lanjut)
Memberikan kembali bantuan (tindak lanjut)
BENTUK BANTUAN
1. Memperkuat konformitas
2. Mengubah lingkungan
3. Memilih lingkungan
4. Mempelajari keterampilan
5. Mengubah sikap
TEKNIK-TEKNIK
1. Ciptakan hubungan baik (Rapport)
2. Membantu pemahaman diri
3. Pemberian nasehat
4. Membantu pelaksanaan rencana
5. Merujuk ke pihak lainKlien yang telah mampu dan mau menerima hasil dari pelaksanaan konseling, untuk selanjutnya akan mau melanjutkan konseling.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih