LANDASAN BIMBINGAN KONSELING
Landasan yang digunakan dalam Bimbingan Konseling adalah landasan filosofis, religius, psikologis dan pedagogis. Lansan ini merupakan dasar mengapa layanan bimbingan konseling perlu diberikan atau menjadi salah satu komponen pendidikan yang harus didapatkan oleh anak didik.
A. Landasan Filosofis
Secara filosofis para ahli mempunyai pandangan yang beraneka ragam terntang manusia. Ada yang beranggapan bahwa manusia lahir sudah membawa bakat minat dan kemampuan masing (aliran nativisme). Di lain fihak ada yang berpendapat manusia lahir tidak membawa apa-apa lingkunganlah yang membentuk mereka (aliran emprisme) dan ada yang menggabungkan kedua pandangan tersebut, bahwa manusia dipengaruhi oleh bawaan (potensi) dari lahir dan lingkungannya (konvergensi).
Terlepas dari perbedaan para ahli yang perlu kita garis bawahi adalah bakat, minat dan kemampuan tersebut harus dikembangkan melalui suatu proses tertentu dan dalam proses itulah diperlukan bantuan orang lain agar berkembang secara optimal. Menurut Aristoteles agar berkembang mencapai taraf anema intelectiva tidak berhenti pada anema vegetativa maupun anema sensitiva.
Sebagai bangsa Indonesia maka Panca sila dan UUD 1945 merupakan landasan filosofi. Setiap kegiatan harus berlandaskan Panca sila dan UUD’45 termasuk kegiatan Pendidikan dan Bimbingan Konseling. Secara tegas kegiatan pendidikan dan Bimbingan konseling tidak tercantum dalam keduanya, tetapi produk MPR, GBHN dan khususnya Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional secra tegas dapat kita gunakan sebagai landasan atau payung hukum keberadaan Bimbingan Konseling.
UU No 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu “ Terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 butir 6 yang mengemukakan bahwa konselor adalah pendidik, pasal 3 bahwa Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, dan pasal 4 ayat (4) bahwa Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran, dan pada pasal 12 ayat (1b) yang menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 5 s.d pasal 18 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan mengah.
Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, yang memuat pengembangan diri peserta didik dalam struktur kurikulum setiap satuan pendidikan difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor, guru atau tenaga kependidikan.
Dasar Standarisasi Profesi Konseling yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Tahun 2004 untuk memberi arah pengembangan profesi konseling di sekolah dan luar sekolah.
B. Landasan Religius/Spiritual
Adanya Counseling spiritual yang diprogramkan secara formal dengan dasar-dasar ilmiah pada program bimbingan dan konseling bidang kesehatan mental dan penyembuhan penyakit jiwa, pelaksanaannya didasari dengan berbagai disiplin ilmu seperti kesehatan mental, psychotherapy, faith healing (penyembuhan melalui keimanan) dan prinsip-prinsip religio psychotherapy dijadikan pegangan dalam pendekatan keimanan. Fungsi Bimbingan Konseling sebagai fasilitator dan motivator klien dengan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri; fungsi pencegahan terhadap gangguan mental spiritual dan lingkungan yang menghambat proses perkembangan hidup klien, repressif/kuratif terhadap penyakit mental dan spiritual klien dengan merujuk kepada ahlinya (psikiater, psikolog dsb.).
C. Landasan Pedagogis
Materi pelayanan Bimbingan Konseling dikemas dengan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Dari sudut pandangan paedagogis atau pendidikan, Bimbingan Konseling adalah bagian integral dari pendidikan, yaitu tujuan pendidikan adalah tujun Bimbingan Konseling pula. Landasan, fungsi, prinsip-prinsip Bimbingan Konseling harus sejalan dengan konsep pendidikan.
Dari pendekatan paedagogis, siswa tidak hanya belajar melalui latihan dan belajar melalui pengajaran, juga belajar menjadi (learning to be), mengembangkan potensi diri seoptimal mungkin, dan mengembangkan diri menjadi manusia seutuhnya serta menyentuh hal-hal yang berurusan dengan:
Pengembangan hubungan interpersonal
Pengembangan hubungan intrapersonal
Pengembangan motivasi
Komitmen
Daya juang
Kematangan / ketahanlamaan (adversty)
Mengembangkan karir
Bimbingan Konseling merupakan ilmu khusus, sehingga tugas dan tanggung jawab yang iemban oleh para Guru Pembimbing atau Konselor dan guru mata pelajaran yang alih fungsi pada Bimbingan Konseling, perlu dievaluasi kembali. Sebutan konselor secara eksplisit di dalam UU No 20/2003 tentang Sisdiknas merupakan pengakuan formal terhadap eksistensi profesi konselor sebagai tenaga pendidik lainnya seperti guru.
D. Landasan Psikologis
Pelayanan Bimbingan Konseling merupakan proses bantuan bagi siswa dengan memperhatikan kemungkinan dan kenyataan tentang adanya kesulitan siswa untuk mencapai perkembangan yang optimal, sehingga konselor/guru pembimbing perlu memberikan bantuan kepada siswa hingga mampu memahami diri, mengarahkan diri, bertindak dan bersikap di dalam pengambilan keputusan dari pemecahan masalahnya.
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada siswa agar dapat memahami dirinya, memahami lingkungannya dalam tata kehidupan dan mengembangkan rencana dan kemampuannya untuk mengambil keputusan tentang masa depannya.
TEORI-TEORI KONSELING
A. Macam-macam Pendekatan / Teori dalam Penyuluhan (Konseling)
Ada beberapa bentuk pendekatan dalam penyuluhan yang mulai dikembangkan antara lain:
(1) Penyuluhan Klinikal
(2) Penyuluhan Non-direktif
(3) Penyuluhan Direktif
(4) Penyuluhan Rasional Emotif
(5) Teori Self dari Rogers
(6) Pendekatan Analisis Transaksional dari Eric Berne
(7) Pendekatan Psikoanalistik, dan sebagainya.
B. Langkah-langkah Penyuluhan
a. Analisis
Adalah langkah memahami kehidupan individu siswa, yaitu dengan cara mengumpulkan data dari berbagai sumber.
Dengan arti lain analisis merupakan kegiatan pengumpulan data tentang siswa yang berkenaan dengan bakat, minat, motif, kesehatan fisik, kehidupan emosional dan karakteristik yang dapat menghambat atau mendukung penyesuaian diri siswa
Alat-alat untuk keperluan analisis ini antara lain berupa:
(1) Tes Prestasi Belajar
(2) Kartu Pribadi Siswa
(3) Pedoman wawancara
(4) Riwayat hidup
(5) Catatan anekdot
(6) Tes Psikologis/Inventori
(7) Daftar Cek Masalah
(8) Angket
(9) Sosiometri
b. Sintesis
Sintesis adalah langlah menghubungkan dan merangkum data. Ini berarti bahwa dalam langkah sintesis penyuluh mengorganisasikan dan merangkum data sehingga tampak dengan jelas gejala-gejala atau keluhan-keluhan siswa. Rangkuman data ini haruslah dibuat berdasarkan data yang diperoleh dalam langkah analisis.
c. Diagnosis
Diagnosis adalah loangkah menemukan masalahnya atau mengidentifikasi masalah.
Langkah ini mencakup proses interpretasi data dalam kaitannya dengan gejala-gejala masalah, kekuatan dan kelemahan siswa. Dalam proses penafsiran data dalam hubungannya dengan perkiraan penyebab masalah, penyuluh haruslah menentukan penyebab masalah yang paling mendekati kebenaran atau menghubungkan sebab akibat yang paling logis dan rasional. Ini masalah yang diidentifikasi oleh penyulu dalam langkah diagnosis mungkin saja lebih dari satu.
d. Prognosis
Langkah prognosis yaitu langka meramalkan akibat yang mungkin timbul dari masalah itu dan menunjukkan perbuatan-perbuatan yang dapat dipilih. Atau dengan kata lain prognosis adalah suatu langkah mengenai alternatif bantuan yang dapat atau mungkin diberikan kepada siswa sesuai dengan masalah yang dihadapi sebagaimana yang ditemukan dalam langkah diagnosis.
e. Treatment/penyuluhan
Langkah ini adalah merupakan pemeliharaan yang berupa inti dari pelaksanaan penyuluhan yang meliputi berbagai bentuk usaha, diantaranya menciptakan hubungan baik (rapport) antara penyuluh dengan siswa (klien), menafsirkan data, memberikan berbagai informasi, serta merencanakan berbagai bentuk kegiatan bersama siswa (klien)
Bentuk-bentuk bantuan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah melalui penyuluhan ini antara lain:
(1) Memperkuat diri dalam lingkungan (memperkuat konformitas)
(2) Mengubah lingkungan
(3) Memilih lingkungan yang memadai
(4) Mempelajari keterampilan yang diperlukan
(5) Mengubah sikap
Pemberian bantuan melalui penyuluhan ini bisa dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik seperti:
(1) Menciptakan hubungan baik
(2) Membantu siswa meningkatkan pemahaman diri
(3) Memberikan nasehat atau merencanakan program kegiatan
(4) Membantu siswa dalam melaksanakan keputusan atau rencana kegiatan yang dipilih.
(5) Merujuk ke pihak lain.
f. Tindak lanjut (follow up)
Langkah tindak lanjut adalah merupakan suatu langkah penentuan efektif tidaknya suatu usaha penyuluhan yang telah dilaksanakan. Langkah ini merupakan langkah membantu siswa (klien) melakukan program kegiatan yang dikehendaki atau membatu siswa kebali memecahkan maasalah-masalah baru yang berkaitan dengan masalahnya semula.
Alat Pengumpul Data Penyuluhan
g. Teknik Observasi
(1) Daftar cek
(2) Catatan Anekdot
h. Teknik Komunikasi
(1) Wawancara
(2) Daftar cek masalah
(3) Angket
(4) Sosiomerti
(5) Tes psikologi dan inventori
i.
BENTUK BANTUAN
1. Memperkuat konformitas
2. Mengubah lingkungan
3. Memilih lingkungan
4. Mempelajari keterampilan
5. Mengubah sikapTeknik Studi Dokumentasi
(1) Raport
(2) Legger
(3) Catatan kesehatan
(4) Rekaman
Analisis
Sntesis
Diagnosiss
Prognosis
Bantuan
(penyuluhan)
Berbagai
Data siswa
terkumpul
Data siswa
Tersusun & terorganisisir
Gambaran inti masalah & penyebabnya
Perangkat kemungki
nan bantuan
Keputusan,
Rencana
Masalah Baru
Membenatu melaksanakan Rencana (tindak lanjut)
Memberikan kembali bantuan (tindak lanjut)
TEKNIK-TEKNIK
1. Ciptakan hubungan baik (Rapport)
2. Membantu pemahaman diri
3. Pemberian nasehat
4. Membantu pelaksanaan rencana
5. Merujuk ke pihak lain
Landasan yang digunakan dalam Bimbingan Konseling adalah landasan filosofis, religius, psikologis dan pedagogis. Lansan ini merupakan dasar mengapa layanan bimbingan konseling perlu diberikan atau menjadi salah satu komponen pendidikan yang harus didapatkan oleh anak didik.
A. Landasan Filosofis
Secara filosofis para ahli mempunyai pandangan yang beraneka ragam terntang manusia. Ada yang beranggapan bahwa manusia lahir sudah membawa bakat minat dan kemampuan masing (aliran nativisme). Di lain fihak ada yang berpendapat manusia lahir tidak membawa apa-apa lingkunganlah yang membentuk mereka (aliran emprisme) dan ada yang menggabungkan kedua pandangan tersebut, bahwa manusia dipengaruhi oleh bawaan (potensi) dari lahir dan lingkungannya (konvergensi).
Terlepas dari perbedaan para ahli yang perlu kita garis bawahi adalah bakat, minat dan kemampuan tersebut harus dikembangkan melalui suatu proses tertentu dan dalam proses itulah diperlukan bantuan orang lain agar berkembang secara optimal. Menurut Aristoteles agar berkembang mencapai taraf anema intelectiva tidak berhenti pada anema vegetativa maupun anema sensitiva.
Sebagai bangsa Indonesia maka Panca sila dan UUD 1945 merupakan landasan filosofi. Setiap kegiatan harus berlandaskan Panca sila dan UUD’45 termasuk kegiatan Pendidikan dan Bimbingan Konseling. Secara tegas kegiatan pendidikan dan Bimbingan konseling tidak tercantum dalam keduanya, tetapi produk MPR, GBHN dan khususnya Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional secra tegas dapat kita gunakan sebagai landasan atau payung hukum keberadaan Bimbingan Konseling.
UU No 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu “ Terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 butir 6 yang mengemukakan bahwa konselor adalah pendidik, pasal 3 bahwa Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, dan pasal 4 ayat (4) bahwa Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran, dan pada pasal 12 ayat (1b) yang menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 5 s.d pasal 18 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan mengah.
Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, yang memuat pengembangan diri peserta didik dalam struktur kurikulum setiap satuan pendidikan difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor, guru atau tenaga kependidikan.
Dasar Standarisasi Profesi Konseling yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Tahun 2004 untuk memberi arah pengembangan profesi konseling di sekolah dan luar sekolah.
B. Landasan Religius/Spiritual
Adanya Counseling spiritual yang diprogramkan secara formal dengan dasar-dasar ilmiah pada program bimbingan dan konseling bidang kesehatan mental dan penyembuhan penyakit jiwa, pelaksanaannya didasari dengan berbagai disiplin ilmu seperti kesehatan mental, psychotherapy, faith healing (penyembuhan melalui keimanan) dan prinsip-prinsip religio psychotherapy dijadikan pegangan dalam pendekatan keimanan. Fungsi Bimbingan Konseling sebagai fasilitator dan motivator klien dengan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri; fungsi pencegahan terhadap gangguan mental spiritual dan lingkungan yang menghambat proses perkembangan hidup klien, repressif/kuratif terhadap penyakit mental dan spiritual klien dengan merujuk kepada ahlinya (psikiater, psikolog dsb.).
C. Landasan Pedagogis
Materi pelayanan Bimbingan Konseling dikemas dengan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Dari sudut pandangan paedagogis atau pendidikan, Bimbingan Konseling adalah bagian integral dari pendidikan, yaitu tujuan pendidikan adalah tujun Bimbingan Konseling pula. Landasan, fungsi, prinsip-prinsip Bimbingan Konseling harus sejalan dengan konsep pendidikan.
Dari pendekatan paedagogis, siswa tidak hanya belajar melalui latihan dan belajar melalui pengajaran, juga belajar menjadi (learning to be), mengembangkan potensi diri seoptimal mungkin, dan mengembangkan diri menjadi manusia seutuhnya serta menyentuh hal-hal yang berurusan dengan:
Pengembangan hubungan interpersonal
Pengembangan hubungan intrapersonal
Pengembangan motivasi
Komitmen
Daya juang
Kematangan / ketahanlamaan (adversty)
Mengembangkan karir
Bimbingan Konseling merupakan ilmu khusus, sehingga tugas dan tanggung jawab yang iemban oleh para Guru Pembimbing atau Konselor dan guru mata pelajaran yang alih fungsi pada Bimbingan Konseling, perlu dievaluasi kembali. Sebutan konselor secara eksplisit di dalam UU No 20/2003 tentang Sisdiknas merupakan pengakuan formal terhadap eksistensi profesi konselor sebagai tenaga pendidik lainnya seperti guru.
D. Landasan Psikologis
Pelayanan Bimbingan Konseling merupakan proses bantuan bagi siswa dengan memperhatikan kemungkinan dan kenyataan tentang adanya kesulitan siswa untuk mencapai perkembangan yang optimal, sehingga konselor/guru pembimbing perlu memberikan bantuan kepada siswa hingga mampu memahami diri, mengarahkan diri, bertindak dan bersikap di dalam pengambilan keputusan dari pemecahan masalahnya.
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada siswa agar dapat memahami dirinya, memahami lingkungannya dalam tata kehidupan dan mengembangkan rencana dan kemampuannya untuk mengambil keputusan tentang masa depannya.
TEORI-TEORI KONSELING
A. Macam-macam Pendekatan / Teori dalam Penyuluhan (Konseling)
Ada beberapa bentuk pendekatan dalam penyuluhan yang mulai dikembangkan antara lain:
(1) Penyuluhan Klinikal
(2) Penyuluhan Non-direktif
(3) Penyuluhan Direktif
(4) Penyuluhan Rasional Emotif
(5) Teori Self dari Rogers
(6) Pendekatan Analisis Transaksional dari Eric Berne
(7) Pendekatan Psikoanalistik, dan sebagainya.
B. Langkah-langkah Penyuluhan
a. Analisis
Adalah langkah memahami kehidupan individu siswa, yaitu dengan cara mengumpulkan data dari berbagai sumber.
Dengan arti lain analisis merupakan kegiatan pengumpulan data tentang siswa yang berkenaan dengan bakat, minat, motif, kesehatan fisik, kehidupan emosional dan karakteristik yang dapat menghambat atau mendukung penyesuaian diri siswa
Alat-alat untuk keperluan analisis ini antara lain berupa:
(1) Tes Prestasi Belajar
(2) Kartu Pribadi Siswa
(3) Pedoman wawancara
(4) Riwayat hidup
(5) Catatan anekdot
(6) Tes Psikologis/Inventori
(7) Daftar Cek Masalah
(8) Angket
(9) Sosiometri
b. Sintesis
Sintesis adalah langlah menghubungkan dan merangkum data. Ini berarti bahwa dalam langkah sintesis penyuluh mengorganisasikan dan merangkum data sehingga tampak dengan jelas gejala-gejala atau keluhan-keluhan siswa. Rangkuman data ini haruslah dibuat berdasarkan data yang diperoleh dalam langkah analisis.
c. Diagnosis
Diagnosis adalah loangkah menemukan masalahnya atau mengidentifikasi masalah.
Langkah ini mencakup proses interpretasi data dalam kaitannya dengan gejala-gejala masalah, kekuatan dan kelemahan siswa. Dalam proses penafsiran data dalam hubungannya dengan perkiraan penyebab masalah, penyuluh haruslah menentukan penyebab masalah yang paling mendekati kebenaran atau menghubungkan sebab akibat yang paling logis dan rasional. Ini masalah yang diidentifikasi oleh penyulu dalam langkah diagnosis mungkin saja lebih dari satu.
d. Prognosis
Langkah prognosis yaitu langka meramalkan akibat yang mungkin timbul dari masalah itu dan menunjukkan perbuatan-perbuatan yang dapat dipilih. Atau dengan kata lain prognosis adalah suatu langkah mengenai alternatif bantuan yang dapat atau mungkin diberikan kepada siswa sesuai dengan masalah yang dihadapi sebagaimana yang ditemukan dalam langkah diagnosis.
e. Treatment/penyuluhan
Langkah ini adalah merupakan pemeliharaan yang berupa inti dari pelaksanaan penyuluhan yang meliputi berbagai bentuk usaha, diantaranya menciptakan hubungan baik (rapport) antara penyuluh dengan siswa (klien), menafsirkan data, memberikan berbagai informasi, serta merencanakan berbagai bentuk kegiatan bersama siswa (klien)
Bentuk-bentuk bantuan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah melalui penyuluhan ini antara lain:
(1) Memperkuat diri dalam lingkungan (memperkuat konformitas)
(2) Mengubah lingkungan
(3) Memilih lingkungan yang memadai
(4) Mempelajari keterampilan yang diperlukan
(5) Mengubah sikap
Pemberian bantuan melalui penyuluhan ini bisa dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik seperti:
(1) Menciptakan hubungan baik
(2) Membantu siswa meningkatkan pemahaman diri
(3) Memberikan nasehat atau merencanakan program kegiatan
(4) Membantu siswa dalam melaksanakan keputusan atau rencana kegiatan yang dipilih.
(5) Merujuk ke pihak lain.
f. Tindak lanjut (follow up)
Langkah tindak lanjut adalah merupakan suatu langkah penentuan efektif tidaknya suatu usaha penyuluhan yang telah dilaksanakan. Langkah ini merupakan langkah membantu siswa (klien) melakukan program kegiatan yang dikehendaki atau membatu siswa kebali memecahkan maasalah-masalah baru yang berkaitan dengan masalahnya semula.
Alat Pengumpul Data Penyuluhan
g. Teknik Observasi
(1) Daftar cek
(2) Catatan Anekdot
h. Teknik Komunikasi
(1) Wawancara
(2) Daftar cek masalah
(3) Angket
(4) Sosiomerti
(5) Tes psikologi dan inventori
i.
BENTUK BANTUAN
1. Memperkuat konformitas
2. Mengubah lingkungan
3. Memilih lingkungan
4. Mempelajari keterampilan
5. Mengubah sikapTeknik Studi Dokumentasi
(1) Raport
(2) Legger
(3) Catatan kesehatan
(4) Rekaman
Analisis
Sntesis
Diagnosiss
Prognosis
Bantuan
(penyuluhan)
Berbagai
Data siswa
terkumpul
Data siswa
Tersusun & terorganisisir
Gambaran inti masalah & penyebabnya
Perangkat kemungki
nan bantuan
Keputusan,
Rencana
Masalah Baru
Membenatu melaksanakan Rencana (tindak lanjut)
Memberikan kembali bantuan (tindak lanjut)
TEKNIK-TEKNIK
1. Ciptakan hubungan baik (Rapport)
2. Membantu pemahaman diri
3. Pemberian nasehat
4. Membantu pelaksanaan rencana
5. Merujuk ke pihak lain

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih