Sabtu, 31 Januari 2009

KECAKAPAN PRIBADI

Kecakapan Pribadi (Personal Competence)

Kecakapan ini menentukan bagaimana kita mengelola diri sendiri

Kesadaran Diri (Self Awareness)

Mengetahui kondisi diri sendiri, kesukaan, sumber daya dan ituisi
Ø Keasadaran Emosi (Emotional awareness) : mengenali emosi sendiri dan efeknya
Ø Penilaian diri secara teliti (Accurate self assessment)
Ø Percaya diri (Self confidence): Keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri

Pengaturan Diri (Self Regulation)

Mengelolah kondisi, impuls, dan sumber daya diri sendiri
Ø Kendali diri (Self control): Mengelola emosi-emosi dan desakan-desakan hati yang merusak
Ø Sifat dapat dipercaya (Trustworthiness) : Memelihara norma kejujuran dan integritas
Ø Kehati-hatian (Conscientiousness) : Beratanggung jawab atas kinerja pribadi
Ø Adaptabilitas (Adaptability): Keluwesan dalam menghadapi perubahan
Ø Inovasi (Innovation): mudah menerima dan terbuka terhadap gagasan, pendekatan dan informasi-informasi baru.

Motivasi (Motivation)

Kecenderungan emosi yang mengantar atau memudahkan pencapaian sasaran
Ø Dorongan prestasi (Achievement drive) : Dorongan untuk menjadi lebih baik atau memenuhi standar keberhasilan
Ø Komitmen (Commitment): Menyesuaikan diri dengan sasaran kelompok atau lembaga
Ø Inisiatif (Initiative): Kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan
Ø Optimisme (Optimism): Kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati adal halangan dan kegagalan.

BEREMPATI

Latihan Berempati
“Hidup setiap orang begitu khas, istemewa dan unik, siapakah yang mau mendengarkan untuk mengerti keunikan itu ?” (Stepen R. Covery)

Berkomunikasi secara empatis dapat dilatih dengan membiasakan diri mendengarkan perasaan dan perspektif orang lain.
Mendengarkan dibedakan menjadi beberapa tingkat, yaitu:
1. Mengabaikan Tidak berusaha mendengarkan.
2. Pura-pura mendengar Berbuat seolah-olah kita mendengarkan.
3. Mendengar secara selektif Mendengarkan hanya bagian-bagian pembicaraan
yang menarik minat.
4. Mendengar dengan penuh perhatian Memperhatikan dan berfokus pada apa yang dikata -
kan si pembicara dan membandingkan dengan pengalaman kita sendiri.
5. Mendengar secara empati Mendengarkan dan merespon dengan hati maupun
Pikiran untuk mengerti perkataan, maksud dan pera-
saan si pembicara .
Kiat mendengar secra empatik adalah sebagai berikut:
1. Mengatakan kembali isinya, meringkas arti dengan kata-kata sendiri.
2. Merefleksikan perasaan, lebih mendalami dan mulai menangkap perasaanorang lain dengan kata-kata sendiri. Disamping kata-kata, mencoba memperhatikan perasaannya dari bahasa isyarat (non-verbal, raut muka) serta nada suaranya.
3. mengatakan kembali isi serta merefleksikan perasaan, mengekspresikan baik kata-kata maupun perasaan orang lain dengan kata-kata kita sendiri.

Empati Star Performer
Menurut Goleman, lima kemampuan empati yang umumnya dimiliki oleh para star performer adalah :
1. Memahami orang lain, Yaitu mengindera perasaan-perasaan dan perspektif orang lain, serta menunjukkan minat-minat aktif terhadap kepentingan-kepentingan mereka. Orang dengan kecakapan ini :
Memperhatikan isyarat-isyarat emosi dan mendengarkan dengan baik
Menunjukkan kepekaan dan pemahaman terhadap perspektif orang lain.
Membantu berdasarkan pemahaman terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain.
2. Mengembangkan orang lain, yaitu mengindera kebutuhan orang lain untuk perkembangan dan meningkatkan kemampuan mereka. Orang dengan kecakapan ini :
Mengakui dan menghargai kekuatan, keberhasilan dan perkembangan orang lain.
Menawarkan umpan balik yang bermanfaat dan mengidentifikasi kebutuhan orang lain untuk berkembang.
Menjadi mentor, memberikan perhatian pada waktu yang tepat, dan penugasan-penugasan yang menantang serta memaksakan dikerahkannya keterampilan seseorang.
3. Orientasi pelayanan, yaitu mengantisipasi, mengakui dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pelanggan. Orang dengan kecakapan ini :
Memenuhi kebutuhan-kebutuhan pelanggan dan menyesuaikan semua itu dengan pelayanan atau produk yang tersedia.
Mencari berbagai cara untuk meningkatkan kepuasan dan kesetiaan pelanggan.
Dengan senang hati menawarkan bantuan yang sesuai.
Menghayati perspektif pelanggan, bertindak sebagai penasehat yang dapat dipercaya.
4. Memanfaatkan keragaman, Yaitu menumbuhkan kesempatan-kesempatan melalui keragaman pada banyak orang. Orang dengan kecakapan ini :
Hormat dan mau bergaul dengan orang-orang dari bermacam-macam latar belakang.
Memahami beragamnya pandangan dan peka terhadap perbedaan antar kelompok.
Memandang keberagaman sebagai peluang, menciptakan lingkungan yang memungkinkan semua orang sama-sama maju meskipun berbeda-beda.
Berani menantang sikap membeda-bedakan dan intoleransi
5. Kesadaran politik, yaitu membaca kecenderungan social politik yang sedenga berkembang.Orang dengan kecakapan ini :
Membaca dengan cermat hubungan kekuasaan yang paling tinggi.
Mengenal dengan baik semua jaringan social yang penting.
Memahami kekuatan-kekuatan yang membentuk pandangan-pandangan serta tindakan-tindakan klient, pelanggan serta pesaing.
Membaca dengan cermat realitas lembaga maupun realitas di luar.

Jumat, 30 Januari 2009

Haruskah kita merayakan Valentine Day

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine's Day), pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. Asal-muasalnya yang gelap sebagai sebuah hari raya Katolik Roma didiskusikan di artikel Santo Valentinus. Beberapa pembaca mungkin ingin membaca entri Valentinius pula. Hari raya ini tidak mungkin diasosiasikan dengan cinta yang romantis sebelum akhir Abad Pertengahan ketika konsep-konsep macam ini diciptakan.
Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk "valentines". Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.
Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.
Sebuah kencan pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah relasi serius. Sebenarnya valentine itu Merupakan hari Percintaan, bukan hanya kepada Pacar ataupun kekasih, Valentine merupakan hari terbesar dalam soal Percintaan dan bukan berarti selain valentine tidak merasakan cinta.
Di Amerika Serikat hari raya ini lalu diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik "Happy Valentine's", yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka, namun jarang kepada teman pria lainnya. Kecuali kedua-duanya adalah kaum homoseksual.
B. PEMBAHASAN
1. Sejarah hari Valentine
2. Tradisi Valentine day di Negara-negara non barat
3. Hari Valentine dalam prespektif Islam



BAB II
PEMBAHASAN
A. SEJARAH HARI VALENTINE
Uskup Valentin adalah seorang yang dianggap Santo (orang yang dianggap suci untuk agama Katolik) yang menggantikan seorang dewa yang bernama Lupercus sebagai dewa kesuburan, padang rumput dan hewan ternak serta penyayang. Penyembahan dewa Lupercus sudah menjadi bagian tradisi upacara keagamaan Romawi pada masa itu. Yang paling aneh dari tradisi upacara keagamaan itu diselingi penarikan undian dalam rangka mencari pasangan yang namanya sudah tertulis dalam sebuah kotak undian.
Setelah penarikan undian, maka mereka bebas untuk melakukan hubungan seksual dalam waktu yang sudah ditentukan. Setelah mereka bosan dan sudah terpenuhi kebutuhan nafsu syahwatnya. Mereka pun kembali menarik undian untuk mencari pasangan yang baru lagi, yang kemudian diperlakukan dengan perbuatan yang sama bejatnya. Begitulah tradisi keagamaan ini berlangsung selama berabad-abad.
Setelah Dewa Lupercus meninggal, maka Santo Valentin lah yang menggantikannya sebagai dewa kasih sayang. Tetapi, suatu ketika kekaisaran Romawi memerlukan sejumlah besar tentara yang dipersiapkan untuk berperang.
Oleh karena itu, Kaisan memerintahkan untuk tidak melakukan perkawinan, karena menurut Kaisar dengan melakukan perkawinan para tentara perang dikhawatirkan akan mudah lemah dan tidak bersemangat. Namun, apa yang terjadi! Ternyata Santo Valentin merestui perkawinan terselubung seorang muda-mudi yang telah saling mengikat hubungan cinta. Akan tetapi, restu Santo Valentin dari praktek perkawinan terselubung ini, ternyata diketahui oleh Kaisar.
Akibat dari tindakan Santo ini, akhirnya Kaisar menghukum mati Santo Valentin dengan memancung atau memenggal kepalanya di Roma pada tahun 270 M dan mayatnya dikuburkan di tepi jalan Flamenia.
Baru pada masa Kaisar Constantin (280-337) upacara tersebut kembali didesain dan dimodifikasi dengan penambahan pesan-pesan cinta yang disampaikan oleh para gadis, diletakkan dalam jambangan kemudian diambil para pemudanya.
Kemudian mereka berpasangan dan berdansa yang diakhiri dengan tidur bersama alias zina. Oleh Paus Galasium I seorang pimpinan dewan gereja, pada tahun 494 M mengubah upacara tersebut dengan bentuk rutinitas seremoni porofikasi (pembersihan dosa) dan juga mengubah upacara Lupercalia yang biasanya tanggal 15 Februari menjadi 14 Februari yang secara resmi ditetapkan pada tahun 496 M sebagai Valentin day.

B. TRADISI VALENTINE DAY DI NEGARA-NEGARA NON BARAT
Di Jepang, Hari Valentine sudah muncul berkat marketing besar-besaran, sebagai hari di mana para wanita memberi para pria yang mereka senangi permen cokelat. Namun hal ini tidaklah dilakukan secara sukarela melainkan menjadi sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja di kantor-kantor. Mereka memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka, kadangkala dengan biaya besar. Cokelat ini disebut sebagai Giri-choko, dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat). Lalu berkat usaha marketing lebih lanjut, sebuah hari balasan, disebut “Hari Putih”(White Day) muncul. Pada hari ini (14 Maret), pria yang sudah mendapat cokelat pada hari Valentine diharapkan memberi sesuatu kembali.
Di Taiwan, sebagai tambahan dari Hari Valentine dan Hari Putih, masih ada satu hari raya lainnya yang mirip dengan kedua hari raya ini ditilik dari fungsinya. Namanya adalah "Hari Raya Anak Perempuan" (Qi Xi). Hari ini diadakan pada hari ke-7, bulan ke-7 menurut tarikh kalender kamariyah Tionghoa.
Di Indonesia, budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih juga mulai muncul. Budaya ini cenderung menjadi budaya populer dan konsumtif karena perayaan valentine lebih banyak ditujukan sebagai ajakan pembelian barang-barang yang terkait dengan valentine seperti kotak coklat, perhiasan dan boneka. Pertokoan dan media (stasium TV, radio, dan majalah remaja) terutama di kota-kota besar di Indonesia marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan valentine.
C. HARI VALENTINE DALAM PRESPEKTIF ISLAM
Setidaknya ada dua dasar pikiran atau pijakan kita dalam melihat dan menentukan, apakah Valentine day dapat diterima dalam ajaran dan tradisi Islam. Dasar pikiran yang pertama, dengan melihat dari segi akar sejarahnya. Dari uraian diatas, jelas bahwa Valentine day bukanlah warisan ajaran peninggalan sejarah para Nabi dan Rasul, melainkan ajaran sejarah Dewa Luparcelia, yang kemudian diteruskan oleh Uskup Santo Valentine salah seorang rahib dalam tradisi agama Katolik pada saat itu.
Sementara dalam perspektif ajaran Islam atau agama-agama hanif (mulai dari Adam sampai dengan Muhammad SAW), bahwa sesuatu pesan baru dianggap sebagai bagian dari ajaran agama ketika pesan ajaran itu disampaikan oleh para Rasul yang kemudian diabadikan oleh wahyu Tuhan.
Di luar dari ketentuan diatas, maka sesuatu perbuatan (apalagi menjadi sebuah momen perayaan) tersebut dianggap menyesatkan dan bisa jatuh kepada hukum syrik.
Dalam hadis Rasul ditegaskan, "Siapa yang menyerupai sesuatu perbuatan kaum, maka ia bagian dari kaum itu". (HR. Bukhori Muslim) hadis ini merupakan, salah satu pernyataan Rasulullah SAW, yang sangat populer dan sering kita dengarkan yang menuntut kehati-hatian kita dalam melaksanakan suatu sistem ajaran, karena kita akan menjadi bagian dari golongan tersebut.
Firman Allah: "Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya". (QS. Al Isra': 36).
Yang kedua, sistem tata nilai yang terkandung dalam Valentine day jelas sangat bertentangan dengan sistem tata nilai dalam ajaran Islam. Dalam Islam, tidak ditemukan atau diperbolehkan bahkan sangat dilarang keras untuk membangun sebuah pola pergaulan antara pria dan wanita secara bebas.
Karena perbuatan yang demikian telah msuk kedalam kategori zina, yang dalam Islam sangat disuruh menjauhinya. Firman Allah: "Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan". (QS. Al Isra': 32). Bahkan seorang lelaki dan wanita yang berkhalawat (berdua-duaan) saja, disuruh untuk menjauhinya, karena syetan laknatullah alaih akan menjadi pihak ketiga dari mereka. Keadaan yang demikian akan menjadi peluang bagi mereka untuk melakukan perbuatan keji (zina).
Sangat tidak bisa diterima akal, jika Valentine day diabadikan sebagai simbolisasi keagungan sebuah cinta, namun dalam realitasnya mereka justru mengangkangi dan menodai makna kesucian cinta.
Coba kita bayangkan, dihari itu para pemuda-pemuda larut dalam hura-hura, pergi ketempat-tempat hiburan, saling bermesraan bahkan tak jarang diantara mereka terjerumus untuk melakukan hubungan seksual secara bebas, tanpa adanya sebuah ikatan yang syah menurut ajaran agama.
Dengan mengatas namakan cinta, banyak kemudian para kawula muda justru tidak lagi memiliki masa depan yang ceria dalam kehidupannya. Karena tidak jarang diantara mereka menjadi korban cinta, ditinggalkan oleh mantan kekasihnya, akibat pergaulan bebas yang kadung sudah terlakukan.
Dari dua dasra pikiran diatas, maka jelaslah merayakan Valentine day dalam kaca mata Islam adalah haram. Dengan demikian diharapkan kepada generasi muda Islam untuk tidak terlibat dalam acara atau kegiatan yang menyesatkan ini.
Islam yang sangat kaya akan konsepsi-aplikatif, sangat banyak memberikan aturan-aturan tentang prilaku kehidupan yang bertujuan dalam menempatkan manusia, pada tempat-tempat yang sebaik-baiknya dan semulia-mulianya. Islam sebagai rahmatan lil alamin sudah dijamin oleh Sang Pemilik Alam ini, akan konsepsi ajarannya sebagai ajaran yang mengandung nilai-nilai kebaikan dan kemaslahatan hidup kita di dunia dan akhirat.
Konsep kasih sayang misalnya, Islam sangat begitu jelas, ilegan, humanis, egalitarian, indah dan menyejukkan. Lima belas abad yang lalu Rasulullah SAW, telah menyatakan bahwa: "Tidak beriman seseorang itu, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri" (HR Bukhori Muslim.
Budaya barat tidak sedikitpun lebih aplikabel dari sistem ajaran Islam. Valentine day tidak akan dapat menandingi konsep kasih sayang dan pemaknaan cint dari pada Islam, karena Islam menempatkan rasa kasih sayang dan cinta tidak hanya berdimensi kemanusiaan yang bersifat temporal-temporal, melainkan didorong atas dimensi ilhiah yang bersifat universal-universal.

Rabu, 28 Januari 2009

TEORI-TEORI BIMBINGAN KONSELING

Pengantar

Apabila seseorang (baca – siswa) mempunyai suatu masalah/problem, maka kebutuhan utama bagainya adalah dapat menyelesaiakan problem tersebut dengan baik. Bagi seseorang yang tidak dapat menyelesaikan problemnya kemungkinan akan timbul kecemasan, frustasi atau menjadi kebingungan.
Biasanya orang yang mempunyai problem dan tidak dapat menyelesaikannya sendiri akan sadar bahwa dirinya butuh orang lain yang dapat menolongnya. Tetapi kadang kala ada perasaan malu untuk mengutarakan problemnya kepada orang lain, atau mungkin orang tersebut tidak tahu kepada siapa harus minta tolong. Dalam keadaan demikian maka orang itu perlu memperoleh keterangan atau informasi mengenai orang atau lembaga yang dapat “membantu” memecahkan problemnya. Informasi yang diperoleh dari mulut kemulut, iklan-ilklan di Televisi, Koran atau majalah atau dari selebaran-selebaran sering kali menyesatkan, tidak ilmiyah, tidak professional bahkan iklan tersebut memang sengaja di peruntukkan bagi orang-orang yang kebingungan dan suggestible agar mudah tertarik dan terdorong menggunakan jasa mereka.
Memang kalau dilihat dari perkembangan sejarah Psikologi maupun Bimbingan Konseling dapat dibedakan menjadi dua teori, yaitu teori-teori pra-ilmiah dan teori-teori ilmiyah yang sekarang ini berkembang.

Teori-teori Pra-Ilmiah

1. Astrologi atau Ilmu Perbintangan
Yaitu pengetahuan untuk meramal tentang nasib seseorang berdasarkan perhitungan bintang-bintang pada waktu seseorang dilahirkan. Para astrolog mempunyai dasar pemikirah bahwa kosmos berpengaruh terhadap manusia. Para astrolog menyatakan dapat menceritakan mengenai masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang dengan cara melihat tanggal dan bulan kelahiran kepada siapa saja yang menginginkan. Astrologi atau horoskop banyak digemari dinegara-negara berkembang dan terbelakang, termasuk Indonesia dapat dibuktikan dengan banyaknya iklan di TV, SMS nasib dan peruntungan, ramalan bintang di surat kabar maupun majalah.

2. Chirologi atau Ilmu Gurat-gurat Tangan (bhs.Jawa - - Rajah)
Dasar pikiran dari pengetahuan ini adalah adanya suatu kenyataan bahwa gurat-gurat tangan setiap orang itu tidak ada yang sama satu sama lain. Pengetahuan inilah yang menjadi dasar Daktilaskopi (ilmu sidik jari). Sebab apabila seseorang dapat mengenal perbedaan-perbedaan serta sifat-sifat khusus gurat-gurat tangan tersebut, maka dia akan mengenal perbedaan-perbedaan serta sifat-sifat khas orangnya.

3. Graphologi atau Ilmu tentang Tulisan Tangan
Ilmu yang mempelajari tentang tulisan. Ini diartikan bahwa tulisan tangan sebagai ekspresi jiwa, karena itu dari tulisan tangan ini akan dapat diungkapkan keadaan pribadinya. Banyak teori yang yang diuraikan tentang grapologi ini dan dapat masuk akal. Hanya saja masih diragukan validitasnya.
Banyak para psikolog yang menyelidiki melalui eksperimen dan teknik klinis mengenai seluruh kemungkinan dan teorinya. Gertrude Aull berpendapat bahwa grapologi yang dipraktekkan para psikolog Eropa Tengah lebih banyak didasarkan pada hasil kerja Ludwig Klages yang dikenal sebagai pendiri system kemurnian kepribadian. Pandangan utamanya adalah keunikan dari kepribadian individu diketahui sebagai kesatuan proses psiko-fisik. Jadi seluruh tingkah lakunya berhubungan dengan seluruh kepribadiannya.
Tulisan tangan dapat dilihat sebagai gerakn-gerakan yang ekspresif, dapat memberikan gambaran mengenai tipe tingkah lakunya. Corak tulisan tiap orang berbeda. Kemauan mengubah tulisan hanya menghasilkan perubahan yang sedikit sekali, tidak signifikan.
Diagnosa kepribadian modern telah sering menggunakan usaha-usaha ekspresif dari subyek (contohnya; bentuk dari menggambar bebas, melukiskan acting, memberikan perhatian pada bentuk dan pemahaman ruang yang terlihat). Penggunaan tulisan sebagai diagnosa mempunyai keuntungan dibandingkan teknik-teknik lain, karena mudah di dapat tanpa membuat situasi test laboratories. Interpretasi untuk diagnosa tulisan tidak boleh dicampur adukkan dengan kebagusan tulisan, tetapi dengan bentuk seperti apa adanya.
Dari bentuk tulisan dapat dipertimbangkan dalam tiga aspek yaitu:
Sebagai hasil gerakan tangan dan lengan, mempunyai corak tersendiri dan unik
Sebagai tugas yang dilaksanakan
Sebagai kreasi dari pola individu, yang berkembang tanpa rencana meskipun dibawah pengawasan.
Observasi dan pemikiran dari bentuk tulisan seperti dikemukakan diatas menimbulkan pertanyaan lebih lanjut, yaitu :
Otot-otot apa saja yang ikut bergerak pada waktu menulis ? Tingkah laku atau pengalaman apakah yang dapat mengungkapkan ingatan seseorang ? Keinginan-keinginan atau impuls-impils apa yang mempercapat hal itu ? Apa yang dicoba dikerjakan penulis ? Apakah mungkin menulis itu dapat diartikan sebagai gambaran tingkah laku ?
Seorang penulis berusaha keras mencapai maksudnya dan menyatu dengan lingkungannya. Bagaimana ia mencapai hal tersebut ? Cepat atau lambat, canggung atau luwes ? Teratur atau tidakkah ? Tentu saja bayangan mengenai tujuannya dan persepsi mengenai jalannya membantu untuk menentukan langkahnya.
Apakah struktur, kuwalitas, gaya dari pola tulisan itu ? Apakah akibat dari kehendak pengamat ? Bagaimana penulis menggunakan ruangan yang tersedia ? dan Bagaimana keberhasilannya yang berasal dari adat kebiasaan pola sekolah.

Dalam menganalisa tulisan tangan grafolog memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Apakah tulisan lurus, ataukah naik – turun
Condong atau tegaknya tulisan
Jarak tulisan dari garis yang satu ke garis yang lainnya.
Tumpul runcingnya tulisan
Tebal tipisnya tulisan.
Tetap dan tidaknya ukuran tulisan
Jarak tulisan dari tepi dan sebagainya.
Hal tersebut dianalisa, dicari sifat-sifatnya yang khas dan dicoba untuk menyimpulkan kepribadian penulisnya.

4. Palmistri
Menurut seorang ahli palmistry, lekukan-lekukan, garis-garis, lipatan-lipatan pada tanga berhubungan baik dengan bimbingan pekerjaan atau sebagai dasar untuk memberikan nasehat yang lain.
Sebuah ilustrasi yang dikutip dari pandangan ahli palmistry:
Hakim yang baik adalah seseorang yang bertangan sangat panjang, karena dengan tangan yang panjang itu hakim itu mempunyai sifat yang sabar.
Keistimewaan seorang dokter adalah memiliki telapak tangan yang lentur, lemas, lembut meskipun teguh, lebar dengan jari yang panjang-panjang, ibu jarinya bundar, garis kepala miring dan jari tangannya kuat.
Tentunya memilih pekerjaan dengan melihat bentuk tangan ini sangat tidak tepat

5. Phisiognomi atau Ilmu tentang Wajah
Pengetahuan ini berusaha memahami kepribadian atas dasar keadaan wajahnya. Dasar filosofinya adalah suatu keyakinan bahwa ada hubungan antara keadaan wajah dengan kepribadian. Hal-hal yang tampak pada wajah dapat dipergunakan untuk membuat interpretasi mengenai apa yang terkandung dalam jiwa. Tokoh yang ahli, populer dan penyebar teori ini adalah Johan Casper Lavater (1741-1801) pendeta dari Zurich. Dia menulis buku “Physiognomische Fragmente Zur Beforderung der Menchenkenntniss Und Menschenliebe”. Dalam buku tersebut antara lain dijelaskan :
Keadaan dahi dan kening adalah petunjuk untuk mengerti kecerdasan seseorang.
Hidung dan pipi adalah bagian yang dapat memberikan tanda mengenai halus dan kasarnya perasaan seseorang.
Mulut dan dagu dapat memberikan petunjuk tentang nafsu makan, nafsu minum dan sebagainya.
Mata adalah bagian yang mencerminkan seluruh kehidupan jiwa dan sebagainya.



6. Phrenologi atau ilmu tentang Tengkorak (kepala)
Pengetahuan ini bermaksud untuk memahami kepribadian dengan didasarkan pada tengkorak (batok kepala) seseorang. Teori ini adalah kelanjutan dari J.C. Lavater yang disempurnakan oleh Franz Joseph Gall (1758-1828), dokter Jerman berkolaborasi dengan G. Spuzzheim (1776-1932) mengarang buku mengenai anatomi dan fisiologi otak, yang merupakan karya penting pada zamannya. Dasar ajarannya adalah bahwa setiap fungsi atau kecakapan itu berpusat pada otak. Jika kecakapannya itu luar biasa maka pusatnya di otak pun luar biasa besarnya. Akibatnya, maka bentuk tengkorak akan berubah seiring dengan membesarnya otak sebagai pusat kecakapan tersebut, sehingga bentuk tengkorak akan terdapat tonjolan-tonjolan. Dengan mengukur secara teliti tonjolan-tonjolan tersebut, ditarik suatu kesimpulan tentang kecakapan-kecakapan atau sifat-sifat orangnya.

7. Onychologi atau ilmu tentang Kuku
Onycholog berusaha memahami kepribadian seseorang berdasarkan keadaan kuku-kukunya. Kuku diujung jari mempunyai hubungan yang erat dengan susunan syaraf, dengan cabang-cangnya (serabut saraf) yang terhalus berujung di pucuk-pucuk jari. Warna serta bentuk kuku dapat dipakai sebagai dasar mengenal kepribadian orangnya. Cabang pengetahuan ini berkembang di Prancis, dipelopori oleh Henry Bouquet, Carten Pierre Girom dan Henry Mangin

8. dll.

Teori-teori Ilmiah
1. Teori-teori konseling
Pengertian Konseling
Untuk mendapatkan pengertian yang memadai tentang konseling, berikut ini dikemukakan beberapa pendapat, antara lain :
1. Arthur J.Jones, Buford Steffire dan Norman R. Stewart (dalam buku Principles of Guidance):
Counseling denotes a professional relationship between a trained counseling and client. This relationship is usually person to person although it may sometimes involve more than two people, and is designed to help the client understand and clarify his view of his life space so that he may make meaningful and informed chase are available to him.

Herbert M. Burks, Jr dan Buford Steffire (Theoris of Counseling) :
Counseling is a learning-oriented process, carried on in a simple one-to-one social environment, in which a counselor, professionally competent in relevant psychological skills and knowledge, seeks to assist the client by methode appropriate to the letter’s needs and within the context of total personnel program, to learn more about him self, to learn how to put such understanding into effect in relatin to more clearly perceived, realistically defined goals to the and that the client may become a happier and more productive member of his society.

D. Mortenson dan Schmuller (Gudance in Today”s)
Counseling may, there for, be defined as a person to person process in which one person is helped by another to increase in understanding and ability to meet his problems.

Tolbert, E. (Introduction to Counseling):
Counseling is personal, face-to-face relationship between two people, in which the counselor, by means of the relationship and his special competencies, provides a learning situation in which the counselee, a normal sort of person, is helped to know him self and his present and possible future situations, so that he can make use of characteristics and potentialialities in a way that is both statisfying to himself and beneficial to society, and futher, can learn how to solve future problem and meet future needs

H.B. Pepinsky & P. Pepinsky (Counseling: Theory and Practice)
Counseling is a process involving an interaction between a counselor and client in a private setting, with the purpose helping the client change his behavior so that he may obtain a satisfactory resolution of his needs.


W.S. Winkel
Wawancara konseling merupakanpertemuan antara dua pribadi yang hasilnya tidak ditentukan sebelumnya, yaitu pertemuan berhadapan muka antara konselor dengan konselee/client yang bebas dari peneliaan. Dalam pertemuan ini konselee dapat memusatkan seluruh perhatiaannya pada persoalan yang sedang dihadapinya. Berkat bantuan dari konselor client semakin lama semakin luas pengertiannya tentang masalahnya dan makin sadar pula akan kemampuannya sendiri untuk menyelesaikan persoalannya.

Teknik-Teknik Konseling

Secara umum dalam konseling dikenal tiga teknik atau pendekatan yaitu :
Directive Counseling (Counselor centered counseling)
Non-directive counseling (Client centered counseling)
Eclectic counseling

Directive Counseling

Teknik ini pertama kali dicetuskan oleh Edmond G. Williamson seorang pejabat Dean of Student pada Umiversitas Minnesotta. Proses konseling pada teknik ini kebanyakan berada ditangan konselor. Konselor lebih banyak mengambil inisiatif dalam proses konseling, sehinga klien tinggal menerima apa yang dikemukakan oleh konselor.

Ciri-ciri Directive Conseling
Konselor sebagian besar memikul tanggung jawab mengenai berbagai keputusan yang diambil dan pemilihan pemecahan masalah klien
Konselor mengumpulkan berbagai data, fakta atau informasi mengenai masalah klien
Konselor mempelajari data, fakta atau informasi dan menafsirkan data, fakta atau informasi itu.
Konselor bersama klien mempelajari berbagai macam data, fakta atau informasi dan menganalisa sebab-sebab masalah yang dihadapi dan kemudian bersama-sama merumuskan suatu keputusan.
Klien menerima pendekatan ini secara langsung dari konselor.
Klien menentukan rencana pemecahan masalah yang akan datang dan mulai menyempurnakan keputusannya.
Konselor merekam dan kemudian melaporkan hasil proses konseling pada klien agar klien dengan jelas mengetahui dan cara pemecahan masalahnya.

Langkah-langkah Konseling Directive Conseling
1. Analisis
Adalah langkah memahami kehidupan individu siswa, yaitu dengan cara mengumpulkan data dari berbagai sumber.
Dengan arti lain analisis merupakan kegiatan pengumpulan data tentang siswa yang berkenaan dengan bakat, minat, motif, kesehatan fisik, kehidupan emosional dan karakteristik yang dapat menghambat atau mendukung penyesuaian diri siswa

Alat-alat untuk keperluan analisis ini antara lain berupa:
(1) Tes Prestasi Belajar
(2) Kartu Pribadi Siswa
(3) Pedoman wawancara
(4) Riwayat hidup
(5) Catatan anekdot
(6) Tes Psikologis/Inventori
(7) Daftar Cek Masalah
(8) Angket
(9) Sosiometri

2. Sintesis
Sintesis adalah langlah menghubungkan dan merangkum data. Ini berarti bahwa dalam langkah sintesis penyuluh mengorganisasikan dan merangkum data sehingga tampak dengan jelas gejala-gejala atau keluhan-keluhan siswa. Rangkuman data ini haruslah dibuat berdasarkan data yang diperoleh dalam langkah analisis.

3. Diagnosis
Diagnosis adalah langkah menemukan masalahnya atau mengidentifikasi masalah.
Langkah ini mencakup proses interpretasi data dalam kaitannya dengan gejala-gejala masalah, kekuatan dan kelemahan siswa. Dalam proses penafsiran data dalam hubungannya dengan perkiraan penyebab masalah, penyuluh haruslah menentukan penyebab masalah yang paling mendekati kebenaran atau menghubungkan sebab akibat yang paling logis dan rasional. Ini masalah yang diidentifikasi oleh penyulu dalam langkah diagnosis mungkin saja lebih dari satu.

4. Prognosis
Langkah prognosis yaitu langka meramalkan akibat yang mungkin timbul dari masalah itu dan menunjukkan perbuatan-perbuatan yang dapat dipilih. Atau dengan kata lain prognosis adalah suatu langkah mengenai alternatif bantuan yang dapat atau mungkin diberikan kepada siswa sesuai dengan masalah yang dihadapi sebagaimana yang ditemukan dalam langkah diagnosis.

5. Treatment/ Konseling
Langkah ini adalah merupakan pemeliharaan yang berupa inti dari pelaksanaan penyuluhan yang meliputi berbagai bentuk usaha, diantaranya menciptakan hubungan baik (rapport) antara penyuluh dengan siswa (klien), menafsirkan data, memberikan berbagai informasi, serta merencanakan berbagai bentuk kegiatan bersama siswa (klien)

Bentuk-bentuk bantuan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah melalui penyuluhan ini antara lain:
(1) Memperkuat diri dalam lingkungan (memperkuat konformitas)
(2) Mengubah lingkungan
(3) Memilih lingkungan yang memadai
(4) Mempelajari keterampilan yang diperlukan
(5) Mengubah sikap

Pemberian bantuan melalui penyuluhan ini bisa dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik seperti:
(1) Menciptakan hubungan baik
(2) Membantu siswa meningkatkan pemahaman diri
(3) Memberikan nasehat atau merencanakan program kegiatan
(4) Membantu siswa dalam melaksanakan keputusan atau rencana kegiatan yang dipilih.
(5) Merujuk ke pihak lain.

6. Tindak lanjut (follow up)
Langkah tindak lanjut adalah merupakan suatu langkah penentuan efektif tidaknya suatu usaha penyuluhan yang telah dilaksanakan. Langkah ini merupakan langkah membantu siswa (klien) melakukan program kegiatan yang dikehendaki atau membatu siswa kebali memecahkan maasalah-masalah baru yang berkaitan dengan masalahnya semula.

Kelemahan-kelemahan Directive Conseling
1. Permaslahan yang dihadapi klien beraneka ragam dalam emosi sehingga kadang-kadang konselor mengabaikan segi-segi yang penting dalam proses konseling.
2. Dianggap oleh klien sebagai perampasan tanggung jawabnya
3. Belum terdapat data-data, fakta-fakta atau informasi yang obyektif dari klien.
4. Dengan inisiatif (keaktifan lebih banyak) datang langsung dari konselor bisa menyebabkan adanya distansi antara konselor dengan klien.





Kebaikan-kebaikan Directive Conseling
Dalam keadaan tertentu kalau klien putus asa, rendah diri, takut atau cemas dan sebagainya, peranan konselor sangat menonjol, terutama untuk memulai wawancara konseling.
klien yang tidak memiliki kemampuan verbal untuk memulai wawancara konseling, konselor dapat memberikan bantuan untuk menggiring klien kepada pokok-pokok permasalahan yang ingin diungkapkannya.
Masalah-masalah klien yang sudah jelas memiliki data, fakta atau informasi, lebih lanjut bisa diambil langkah-langkah tertentu oleh konselor dalam memecahkan masalah klien.
Analisis
Sntesis
Diagnosiss
Prognosis
Bantuan
(penyuluhan)
Berbagai
Data siswa
terkumpul
Data siswa
Tersusun & terorganisisir
Gambaran inti masalah & penyebabnya
Perangkat kemungki
nan bantuan

Keputusan,
Rencana

Masalah Baru
Membenatu melaksanakan Rencana (tindak lanjut)
Memberikan kembali bantuan (tindak lanjut)
BENTUK BANTUAN
1. Memperkuat konformitas
2. Mengubah lingkungan
3. Memilih lingkungan
4. Mempelajari keterampilan
5. Mengubah sikap
TEKNIK-TEKNIK
1. Ciptakan hubungan baik (Rapport)
2. Membantu pemahaman diri
3. Pemberian nasehat
4. Membantu pelaksanaan rencana
5. Merujuk ke pihak lainKlien yang telah mampu dan mau menerima hasil dari pelaksanaan konseling, untuk selanjutnya akan mau melanjutkan konseling.
Asas-asas Bimbingan Konseling di Sekolah

Di dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling, diperlukan adanya asas-asas sebagai dasar/fundamen layanan. Ada dua belas (12) azas yang harus diperhatikan dan pemakaiannya disesuaikan dengan kegiatan layanan:

1. Azas Kerahasiaan : menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan tentang diri klient. Guru Pembimbing/konselor berkewajiban penuh memelihara dan menjaga kerahasiaan semua data dan keterangan tentang siswa / anak didik / klient.

2. Azas Kesukarelaan : menghendaki adanya kesukaan dan kerelahan klien menjalani layanan yang diperuntukkan bagi dirinya. Guru Pembimbing/konselor berkewajiban membina dan mengembangkan keseukarelaan tersebut.

3. Azas Keterbukaan : menghendaki klien bersifat terbuka dan tidak berpura-pura dalam mengemukakan atau memberikan keterangan dan dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya.

4. Azas Kegitan : menghendaki agar klien aktif dalam kegiatan layanan dan Guru Pembimbing / Konselor perlu mendorong klien beraktivitas dalam layanan.
5. Azas Kemandirian : klien menjadi individu yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan manerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan dan mengarahkan diri serta mewujudkan diri secara mandiri.

6. Azas Kekinian : menghendaki permasalahan klien baru/dalam kondisi sekarang.

7. Azas Kedinamisan : menghendaki isi layanan dan sasaran layanan (klien) sama-sama bergerak maju dan berkembang dari waktu ke waktu.

8. Azas Keterpaduan : menghendaki adanya keharmonisan, saling menunjang dan terpadu dalam kerja sama dengan pihak-pihak yang berperan dalam memberikan layanan.

9. Azas Kenormatifan : menghendaki kesesuaian antara layanan yang diberikan dengan norma-norma yang ada, nilai dan norma agama, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan kebiasaan yang berlaku.

10. Azas Keahlian : menghendaki supaya layanan yang diberikan kepada klien berdasarkan atas kaidah-kaidah professional, baik dalam layanan maupun penegakkan kode etik.

11. Azas Alih Tangan Kasus (referral) : menghendaki supaya pihak-pihak yang tidak berkewenangan dan tidak mampu agar tidak menangani masalah klien, permasalahan klien dialihtangankan kepada pihak yang berkewenangan dabn mampu, sehingga klien memperoleh bantuan dengan tepat dan tuntas.

12. Azas Tut Wuri Handayani : menghendaki secara keseluruhan rangkaian layanan dapat menciptakan suasana yang dapat memberikan rasa aman, mengembangkan keteladanan, dorongan serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada peserta didik/siswa untuk maju.
LANDASAN BIMBINGAN KONSELING

Landasan yang digunakan dalam Bimbingan Konseling adalah landasan filosofis, religius, psikologis dan pedagogis. Lansan ini merupakan dasar mengapa layanan bimbingan konseling perlu diberikan atau menjadi salah satu komponen pendidikan yang harus didapatkan oleh anak didik.

A. Landasan Filosofis
Secara filosofis para ahli mempunyai pandangan yang beraneka ragam terntang manusia. Ada yang beranggapan bahwa manusia lahir sudah membawa bakat minat dan kemampuan masing (aliran nativisme). Di lain fihak ada yang berpendapat manusia lahir tidak membawa apa-apa lingkunganlah yang membentuk mereka (aliran emprisme) dan ada yang menggabungkan kedua pandangan tersebut, bahwa manusia dipengaruhi oleh bawaan (potensi) dari lahir dan lingkungannya (konvergensi).
Terlepas dari perbedaan para ahli yang perlu kita garis bawahi adalah bakat, minat dan kemampuan tersebut harus dikembangkan melalui suatu proses tertentu dan dalam proses itulah diperlukan bantuan orang lain agar berkembang secara optimal. Menurut Aristoteles agar berkembang mencapai taraf anema intelectiva tidak berhenti pada anema vegetativa maupun anema sensitiva.
Sebagai bangsa Indonesia maka Panca sila dan UUD 1945 merupakan landasan filosofi. Setiap kegiatan harus berlandaskan Panca sila dan UUD’45 termasuk kegiatan Pendidikan dan Bimbingan Konseling. Secara tegas kegiatan pendidikan dan Bimbingan konseling tidak tercantum dalam keduanya, tetapi produk MPR, GBHN dan khususnya Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional secra tegas dapat kita gunakan sebagai landasan atau payung hukum keberadaan Bimbingan Konseling.
UU No 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu “ Terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 butir 6 yang mengemukakan bahwa konselor adalah pendidik, pasal 3 bahwa Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, dan pasal 4 ayat (4) bahwa Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran, dan pada pasal 12 ayat (1b) yang menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 5 s.d pasal 18 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan mengah.

Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, yang memuat pengembangan diri peserta didik dalam struktur kurikulum setiap satuan pendidikan difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor, guru atau tenaga kependidikan.

Dasar Standarisasi Profesi Konseling yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Tahun 2004 untuk memberi arah pengembangan profesi konseling di sekolah dan luar sekolah.

B. Landasan Religius/Spiritual
Adanya Counseling spiritual yang diprogramkan secara formal dengan dasar-dasar ilmiah pada program bimbingan dan konseling bidang kesehatan mental dan penyembuhan penyakit jiwa, pelaksanaannya didasari dengan berbagai disiplin ilmu seperti kesehatan mental, psychotherapy, faith healing (penyembuhan melalui keimanan) dan prinsip-prinsip religio psychotherapy dijadikan pegangan dalam pendekatan keimanan. Fungsi Bimbingan Konseling sebagai fasilitator dan motivator klien dengan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri; fungsi pencegahan terhadap gangguan mental spiritual dan lingkungan yang menghambat proses perkembangan hidup klien, repressif/kuratif terhadap penyakit mental dan spiritual klien dengan merujuk kepada ahlinya (psikiater, psikolog dsb.).

C. Landasan Pedagogis
Materi pelayanan Bimbingan Konseling dikemas dengan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Dari sudut pandangan paedagogis atau pendidikan, Bimbingan Konseling adalah bagian integral dari pendidikan, yaitu tujuan pendidikan adalah tujun Bimbingan Konseling pula. Landasan, fungsi, prinsip-prinsip Bimbingan Konseling harus sejalan dengan konsep pendidikan.
Dari pendekatan paedagogis, siswa tidak hanya belajar melalui latihan dan belajar melalui pengajaran, juga belajar menjadi (learning to be), mengembangkan potensi diri seoptimal mungkin, dan mengembangkan diri menjadi manusia seutuhnya serta menyentuh hal-hal yang berurusan dengan:
Pengembangan hubungan interpersonal
Pengembangan hubungan intrapersonal
Pengembangan motivasi
Komitmen
Daya juang
Kematangan / ketahanlamaan (adversty)
Mengembangkan karir
Bimbingan Konseling merupakan ilmu khusus, sehingga tugas dan tanggung jawab yang iemban oleh para Guru Pembimbing atau Konselor dan guru mata pelajaran yang alih fungsi pada Bimbingan Konseling, perlu dievaluasi kembali. Sebutan konselor secara eksplisit di dalam UU No 20/2003 tentang Sisdiknas merupakan pengakuan formal terhadap eksistensi profesi konselor sebagai tenaga pendidik lainnya seperti guru.

D. Landasan Psikologis
Pelayanan Bimbingan Konseling merupakan proses bantuan bagi siswa dengan memperhatikan kemungkinan dan kenyataan tentang adanya kesulitan siswa untuk mencapai perkembangan yang optimal, sehingga konselor/guru pembimbing perlu memberikan bantuan kepada siswa hingga mampu memahami diri, mengarahkan diri, bertindak dan bersikap di dalam pengambilan keputusan dari pemecahan masalahnya.
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada siswa agar dapat memahami dirinya, memahami lingkungannya dalam tata kehidupan dan mengembangkan rencana dan kemampuannya untuk mengambil keputusan tentang masa depannya.

TEORI-TEORI KONSELING

A. Macam-macam Pendekatan / Teori dalam Penyuluhan (Konseling)
Ada beberapa bentuk pendekatan dalam penyuluhan yang mulai dikembangkan antara lain:
(1) Penyuluhan Klinikal
(2) Penyuluhan Non-direktif
(3) Penyuluhan Direktif
(4) Penyuluhan Rasional Emotif
(5) Teori Self dari Rogers
(6) Pendekatan Analisis Transaksional dari Eric Berne
(7) Pendekatan Psikoanalistik, dan sebagainya.

B. Langkah-langkah Penyuluhan (contoh)

a. Analisis
Adalah langkah memahami kehidupan individu siswa, yaitu dengan cara mengumpulkan data dari berbagai sumber.
Dengan arti lain analisis merupakan kegiatan pengumpulan data tentang siswa yang berkenaan dengan bakat, minat, motif, kesehatan fisik, kehidupan emosional dan karakteristik yang dapat menghambat atau mendukung penyesuaian diri siswa

Alat-alat untuk keperluan analisis ini antara lain berupa:
(1) Tes Prestasi Belajar
(2) Kartu Pribadi Siswa
(3) Pedoman wawancara
(4) Riwayat hidup
(5) Catatan anekdot
(6) Tes Psikologis/Inventori
(7) Daftar Cek Masalah
(8) Angket
(9) Sosiometri

b. Sintesis
Sintesis adalah langlah menghubungkan dan merangkum data. Ini berarti bahwa dalam langkah sintesis penyuluh mengorganisasikan dan merangkum data sehingga tampak dengan jelas gejala-gejala atau keluhan-keluhan siswa. Rangkuman data ini haruslah dibuat berdasarkan data yang diperoleh dalam langkah analisis.

c. Diagnosis
Diagnosis adalah loangkah menemukan masalahnya atau mengidentifikasi masalah.
Langkah ini mencakup proses interpretasi data dalam kaitannya dengan gejala-gejala masalah, kekuatan dan kelemahan siswa. Dalam proses penafsiran data dalam hubungannya dengan perkiraan penyebab masalah, penyuluh haruslah menentukan penyebab masalah yang paling mendekati kebenaran atau menghubungkan sebab akibat yang paling logis dan rasional. Ini masalah yang diidentifikasi oleh penyulu dalam langkah diagnosis mungkin saja lebih dari satu.

d. Prognosis
Langkah prognosis yaitu langka meramalkan akibat yang mungkin timbul dari masalah itu dan menunjukkan perbuatan-perbuatan yang dapat dipilih. Atau dengan kata lain prognosis adalah suatu langkah mengenai alternatif bantuan yang dapat atau mungkin diberikan kepada siswa sesuai dengan masalah yang dihadapi sebagaimana yang ditemukan dalam langkah diagnosis.

e. Treatment/penyuluhan
Langkah ini adalah merupakan pemeliharaan yang berupa inti dari pelaksanaan penyuluhan yang meliputi berbagai bentuk usaha, diantaranya menciptakan hubungan baik (rapport) antara penyuluh dengan siswa (klien), menafsirkan data, memberikan berbagai informasi, serta merencanakan berbagai bentuk kegiatan bersama siswa (klien)

Bentuk-bentuk bantuan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah melalui penyuluhan ini antara lain:
(1) Memperkuat diri dalam lingkungan (memperkuat konformitas)
(2) Mengubah lingkungan
(3) Memilih lingkungan yang memadai
(4) Mempelajari keterampilan yang diperlukan
(5) Mengubah sikap

Pemberian bantuan melalui penyuluhan ini bisa dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik seperti:
(1) Menciptakan hubungan baik
(2) Membantu siswa meningkatkan pemahaman diri
(3) Memberikan nasehat atau merencanakan program kegiatan
(4) Membantu siswa dalam melaksanakan keputusan atau rencana kegiatan yang dipilih.
(5) Merujuk ke pihak lain.

f. Tindak lanjut (follow up)
Langkah tindak lanjut adalah merupakan suatu langkah penentuan efektif tidaknya suatu usaha penyuluhan yang telah dilaksanakan. Langkah ini merupakan langkah membantu siswa (klien) melakukan program kegiatan yang dikehendaki atau membatu siswa kebali memecahkan maasalah-masalah baru yang berkaitan dengan masalahnya semula.

C. Alat Pengumpul Data Penyuluhan

a. Teknik Observasi
Ø Daftar cek
Ø Catatan Anekdot

b. Teknik Komunikasi
Ø Wawancara
Ø Daftar cek masalah
Ø Angket
Ø Sosiomerti
Ø Tes psikologi dan inventori

c.
BENTUK BANTUAN
1. Memperkuat konformitas
2. Mengubah lingkungan
3. Memilih lingkungan
4. Mempelajari keterampilan
5. Mengubah sikapTeknik Studi Dokumentasi
Ø Raport
Ø Legger
Ø Catatan kesehatan
Ø Rekaman

Analisis
Sntesis
Diagnosiss
Prognosis
Bantuan
(penyuluhan)
Berbagai
Data siswa
terkumpul
Data siswa
Tersusun & terorganisisir
Gambaran inti masalah & penyebabnya
Perangkat kemungki
nan bantuan

Keputusan,
Rencana

Masalah Baru
Membenatu melaksanakan Rencana (tindak lanjut)
Memberikan kembali bantuan (tindak lanjut)
TEKNIK-TEKNIK
1. Ciptakan hubungan baik (Rapport)
2. Membantu pemahaman diri
3. Pemberian nasehat
4. Membantu pelaksanaan rencana
5. Merujuk ke pihak lain





















KONSELING

KONSEP DASAR BIMBINGAN KONSELING
A. Pengertian Bimbingan Konseling
B. Sejarah dan Perkembangan Bimbingan Konseling
C. Asas-asas Bimbingan Konseling di Sekolah
D. Prinsip-prinsip Bimbingan Konseling
E. Tujuan dan Fungsi Bimbingan Konseling
F. Perlunya Bimbingan Konseling di Sekolah
G. Orientasi dan Ruang Lingkup Kerja Bimbingan Konseling di Sekolah

LANDASAN BIMBINGAN KONSELING
A. Landasan Filosofis
B. Landasan Religius
C. Landasan Psikologis
D. Landasan Pedagogis

TEORI-TEORI BIMBINGAN KONSELING
A. Teori-teori yang Relevan Bagi Konseling di Institusi Pendidikan
B. Teori-teori Lain
C. Konselor dan Teori-teori Konseling

JENIS DAN SIFAT BIMBINGAN KONSELING
A. Jenis Bimbingan Konseling
B. Sifat Bimbingan Konseling

JENIS DAN SUMBER MASALAH
A. Hakekat Manusia
B. Jenis Masalah Yang Dihadapi Individu (Siswa)
C. Faktor Penyebab Adanya Masalah
D. Sumber Masalah

PROSEDUR DAN TEKNIK BIMBINGAN KONSELING
A. Teknik Memahami Individu
B. Teknik Memperoleh Data
C. Persiapan dan Prosedur Bimbingan Konseling
D. Teknik Dan Fase-Fase dalam Proses Bimbingan Konseling

ORGANISASI DAN PROGRAM BIMBINGAN KONSELING
A. Prinsip dan Pola Organisasi Bimbingan Konseling
B. Perencanaan Program dan Kegiatan Bimbingan Konseling
C. Komponen-komponan Program Bimbingan Konseling
D. Ciri-ciri Program Bimbingan Konseling yang Baik

TENAGA BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH
A. Klasifikasi Tenaga Bimbingan Konseling
B. Pendidikan Tenaga Bimbingan Konseling
C. Guru Sebagai Tokoh Kunci dalam Bimbingan Konseling
D. Tantangan Yang Dihadapi Konselor

EVALUASI PROGRAM BIMBINGAN KONSELING

A. Prinsip Dan Tujuan Evaluasi Bimbingan Konseling
B. Kriteria Teknik Evaluasi Bimbingan Konseling
C. Usaha Perubahan dalam Program Bimbingan Konseling